vriend

Cari Blog Ini

Entri Populer

Minggu, 28 Juni 2015

Petik Laut Cerminan Jiwa Indonesia

Petik Laut Cerminan Jiwa Indonesia
Indonesia memang kaya dengan budaya dan kearifan lokalnya. Mulai dari suku bangsa, bahasa daerah, lagu daerah, pakaian adat, rumah adat, hingga ritual budayanya. Ada jutaan mungkin warisan budaya Bangsa Indonesia yang kesemuanya telah membentuk sebuah mahakarya, mahakarya Indonesia. Indonesia sudah terkenal sebagai Negara Maritim, sehingga seringkali budaya-budaya kita banyak dimulai dari daerah pesisir. Salah satu budaya daerah pesisir yang sampai saat ini masih terus dipertahankan adalah ritual petik laut/larung sesaji. Jember yang berada di sisi selatan Pulau Jawa juga memiliki daerah pesisir yang konon juga termasuk daerah peradaban tertua yaitu Pantai Puger, terletak tiga puluh enam kilometer arah barat laut dari Kota Jember. Samudera Indonesia telah menjadi ladang penghidupan bagi masyarakat Puger yang sebagian besar adalah nelayan dan menjadikan daerah ini TPI (Tempat Penampungan Ikan) terbesar di Jawa Timur.
Petik Laut adalah sebuah bentuk ritual yang didasari dari kearifan lokal masyarakat. Hampir setiap kawasan berpesisir di Indonesia memiliki ritual Petik Laut walaupun dengan nama yang berbeda-beda. Tujuan Petik Laut dilakukan adalah sebagai bentuk rasa syukur dari masyarakat nelayan atas berkah ikan yang didapat selama setahun kemarin. Petik Laut itu juga merupakan pengharapan dari masyarakat nelayan agar ditahun depan mereka mendapatkan ikan yang jauh lebih banyak lagi dari tahun kemarin serta sebagai tolak balak.
Acara petik laut ini diadakan setiap tahun sekali tepatnya pada awal tahun kalender Jawa atau pada bulan Suro/tanggal 1 Muharram. 
Tradisi petik laut sering disebut juga dengan Larung Sesaji. Penamaan petik laut dikarenakan upacara ini didasari sebagai syukuran para nelayan dengan segala hal yang telah diberikan oleh laut. Sedangkan nama Larung Sesaji terkait dengan prosesi pelaksaan upacara ini yang diakhiri dengan pelarungan sesaji ke laut. Upacara ini merupakan warisan dari tradisi masyarakat semenjak tahun 1894.
Pelaksanaan larung sesaji dilakukan dalam tiga tahap selama dua hari. Tahap yang pertama adalah syukuran di balai desa Pugerkulon. Acara ini dihadiri oleh masyarakat nelayan, para tokoh masyarakat, aparatur desa dan tokoh keagamaan. Pelaksanaan syukuran ini meliputi penghataman Al-Qur’an, kenduri bersama dan diakhiri dengan wayang kulit semalam suntuk. Sampai pada saat munculnya matahari maka dalang akan melakukan ruwatan desa. Disini ketika masyarakat melihat acara ruwatan maka dilarang pulang atau meninggalkan lokasi ruwatan sebelum acara ruwatan benar-benar berakhir.
Tahap kedua pada esok harinya, larung sesaji diawali dengan kirap sesaji dari alun-alun Puger mengelilingi Desa Pugerkulon, lalu kembali ke alun-alun untuk meminta izin kepada Bupati selaku wakil dari Pangeran Puger.
Setelah upacara permohonan izin selesai, acara dilanjutkan dengan peletakan uang logam yang dibungkus daun kering, oleh Bupati selaku wakil dari Pangeran Puger ke dalam perahu kecil yang berisi sesaji. Berbagai hasil alam Puger ditempatkan pada dua miniatur perahu yang di dalamnya juga diberi sayur-mayur yang melambangkan agar masyarakat senantiasa bersatu. Lalu sesaji dalam perahu tersebut diarak menuju pantai.
Perahu hias berlayar ke tengah setelah sesaji dinaikkan. Perahu hias beserta perahu besar berlayar sejauh tiga kilometer dari pantai dan kemudian menaburkan sesaji ke laut yang diiringi salawat dan takbir bersama. Setelah sesaji selesai ditaburkan, perahu kembali ke pantai yang menandai acara petik laut secara seremoni telah selesai.
Sesaji yang dilarung terdiri dari berbagai macam. Ada kepala kambing/sapi yang melambangkan penyerahan dan ketundukan manusia terhadap Tuhan. Kepala ini diibaratkan sebagai ego manusia sehingga harus menghilangkan egonya demi ketundukan dan kepasrahan. Ada hasil pertanian yang merupakan simbol kepasrahan manusia terhadap benda-benda yang dimiliki, artinya semua benda yang dimiliki pada dasarnya milik Tuhan dan manusia hanya diberi untuk kelangsungan hidup mereka. Sayatan sapi dan kue lima warna yang melambangkan bahwa manusia memerlukan sandang pangan dalam hidup. Jenang merah dan putih melambangkan kehidupan yaitu ada malam dan siang. Simbol sepasang bocah lelaki dan perempuan yang terbuat dari tepung melambangkan bahwa manusia terdiri dari lelaki dan perempuan dan masih banyak lagi sesaji yang berupa makanan yang umum dimakan oleh para masyarakat nelayan yang kesemuanya berasal dari swadaya masyarakat.
Pada saat pengarakan sesaji diiringi oleh berbagai tarian. Ada tari pembuka yang menggambarkan anak-anak yang menjemput bapaknya yang pulang dari melaut. Kemudian dilanjutkan dengan tarian Nyare Aeng ka Semper (mencari air ke sungai) yaitu para anak nelayan pergi ke sungai untuk mengambil air. Setelah itu ada tarian Samper Nyeceng, yaitu gambaran dari para istri nelayan yang menunggu sang suami pulang dari melaut. Tarian terakhir yaitu tarian Muang Sangkal (tarian buang sial) yang diperagakan oleh lima orang penari. Tarian ini selalu ada sebelum acara petik laut dimulai yang berarti harapan agar acara berjalan baik, tanpa ada hambatan dari awal sampai akhir.
Banyak persiapan yang dilakukan oleh para nelayan sebelum acara petik laut. Mereka dengan gigih mengecat ulang perahu mereka dan juga menghiasnya dengan berbagai  macam hiasan. Memasak berbagai macam hidangan sebagai sesaji pelengkap yang nantinya akan dimakan bersama-sama setelah selesai didoakan. Itulah mengapa petik laut tidak akan terselenggara dengan lancar dan khidmat jika kehilangan nilai kegotong-royongan antar masyarakat nelayan, karena acara petik laut ini terselenggara hasil dari swadaya masyarakat.

Masyarakat Indonesia yang multikultural juga berdampak bagi masyarakat Jember khususnya Puger. Jember terkenal sebagai daerah dengan budaya pendalungannya yaitu campuran antara Jawa dengan Madura. Sehingga dalam rangkaian acara petik laut dapat dijumpai akulturasi kedua budaya tersebut. Di Puger bukan lagi Jawa bukan lagi Madura, namun masyarakat pendalungan. Kerukunan dalam masyarakat ini semakin tercipta ketika acara petik laut tiba. Tidak ada lagi kasta nelayan bawah ataupun bangsawan, semua memakan makanan yang sama. Kerjasama antar warga masyarakat sangat dibutuhkan dalam mensukseskan acara petik laut, karena petik laut bukan hanya tentang nelayan, bukan hanya tentang hidup mereka di laut tetapi merupakan ungkapan keyakinan masyarakat terhadap kehidupan yang saling terkait antara manusia, alam dan Tuhan. Hal sederhana inilah yang menjadikan Indonesia bisa hidup rukun di bawah naungan Bhineka Tunggal Ika walaupun berasal dari adat yang berbeda, kondisi geografis yang berbeda maupun keyakinan yang berbeda. Namun adanya keyakinan masyarakat tersebut telah melahirkan nilai yang tumbuh dalam setiap pribadi Indonesia, nilai yang menjadi jiwa Indonesia, jiwa yang akhirnya melaahirkan sebuah mahakarya Indonesia.

Jumat, 02 November 2012

papercraft danbo

Pasti di antara kalian sudah tahu apa itu boneka danbo. Boneka yang hanya dibuat dari kertas kardus ini sangat unik dan membuat yang melihatnya akan jatuh hati dengan boneka berkepala kotak ini. Namun jika kalian membeli papercraft ini, biasanya harga yang ditawarkan sangatlah mahal. Oleh karena itu, jika kita bisa membuatnya sendiri, kenapa harus beli? Berikut adalah cara buatnya:

Alat yang dibutuhkan:
1. Kertas Karton (atau kertas tebal apapun)
2. Pensil
3. Penggaris
4. Gunting
5. Lem

Berikut adalah polanya: (klik untuk memperbesar)




Berikut langkah-langkah membuatnya:

1. Pola 1 untuk membuat kepala


2. No. 16 sebagai tangan-tangan pada Danbo.


3. No. 03 untuk di rekatkan pada No. 16.


4. No. 06 untuk membuat bagian seperti tabung, sebagai engsel penggerak pada tangan Danbo dan No. 07 untuk penutupnya. Setelah itu, untuk tempat engselnya di gunakan pola No. 09


5. Selanjutnya gabungkan tangan dengan tempat engsel tersebut.


6. No. 8 sebagai badan Danbo.


7. Gabungkan tangan yang sudah jadi ke tangan badan Danbo tersebut.


8. Buatlah tabung dari No. 15, sebagai penutup tabung gunakan lingkaran pada No. 14. Kemundian gabungkan tabung-tabung tersebut dengan pola No. 13. Ini adalah sebagai engsel pada kepala.


9. Gabungkan pola No 12 dengan engsel kepala.


10. Rekatkan engsel kepala tersebut pada bagian badan Danbo.


11. Rekatkan bagian kepala ke engsel kepala tersebut.


12. No. 2 sebagai kaki-kaki pada Danbo.


13. Buatlah engsel pada kaki dengan membentuk tabung pada pola No. 17, dengan lingkaran penutup No. 5. Gabungkan kedua kaki dengan engsel tersebut.


14. Rekatkan kaki yang sudah jadi di bagian dalam badan Danbo tersebut.


15. Selesai. Boneka Danbo karya sendiri telah jadi.