Petik Laut Cerminan
Jiwa Indonesia
Indonesia memang kaya dengan budaya dan kearifan
lokalnya. Mulai dari suku bangsa, bahasa daerah, lagu daerah, pakaian adat,
rumah adat, hingga ritual budayanya. Ada jutaan mungkin warisan budaya Bangsa
Indonesia yang kesemuanya telah membentuk sebuah mahakarya, mahakarya Indonesia.
Indonesia sudah terkenal sebagai Negara Maritim, sehingga seringkali
budaya-budaya kita banyak dimulai dari daerah pesisir. Salah satu budaya daerah
pesisir yang sampai saat ini masih terus dipertahankan adalah ritual petik laut/larung
sesaji. Jember yang berada di sisi selatan Pulau Jawa juga memiliki daerah
pesisir yang konon juga termasuk daerah peradaban tertua yaitu Pantai Puger,
terletak tiga puluh enam kilometer arah barat laut dari Kota Jember. Samudera
Indonesia telah menjadi ladang penghidupan bagi masyarakat Puger yang sebagian
besar adalah nelayan dan menjadikan daerah ini TPI (Tempat Penampungan Ikan)
terbesar di Jawa Timur.
Petik Laut
adalah sebuah bentuk ritual yang didasari dari kearifan lokal masyarakat.
Hampir setiap kawasan berpesisir di Indonesia memiliki ritual Petik Laut walaupun
dengan nama yang berbeda-beda. Tujuan Petik Laut dilakukan adalah sebagai bentuk
rasa syukur dari masyarakat nelayan atas berkah ikan yang didapat selama
setahun kemarin. Petik Laut itu juga merupakan pengharapan dari masyarakat nelayan
agar ditahun depan mereka mendapatkan ikan yang jauh lebih banyak lagi dari
tahun kemarin serta sebagai tolak balak.
Acara petik
laut ini diadakan setiap tahun sekali tepatnya pada awal tahun kalender Jawa
atau pada bulan Suro/tanggal 1 Muharram.
Tradisi
petik laut sering disebut juga dengan Larung Sesaji. Penamaan petik laut dikarenakan
upacara ini didasari sebagai syukuran para nelayan dengan segala hal yang telah
diberikan oleh laut. Sedangkan nama Larung Sesaji terkait dengan prosesi
pelaksaan upacara ini yang diakhiri dengan pelarungan sesaji ke laut. Upacara
ini merupakan warisan dari tradisi masyarakat semenjak tahun 1894.
Pelaksanaan larung sesaji dilakukan dalam tiga tahap
selama dua hari. Tahap yang pertama adalah syukuran di balai desa Pugerkulon.
Acara ini dihadiri oleh masyarakat nelayan, para tokoh masyarakat, aparatur
desa dan tokoh keagamaan. Pelaksanaan syukuran ini meliputi penghataman
Al-Qur’an, kenduri bersama dan diakhiri dengan wayang kulit semalam suntuk. Sampai pada
saat munculnya matahari maka dalang akan melakukan ruwatan desa. Disini ketika
masyarakat melihat acara ruwatan maka dilarang pulang atau meninggalkan lokasi
ruwatan sebelum acara ruwatan benar-benar berakhir.
Tahap kedua pada esok harinya, larung sesaji diawali
dengan kirap sesaji dari alun-alun Puger mengelilingi Desa Pugerkulon, lalu
kembali ke alun-alun untuk meminta izin kepada Bupati selaku wakil dari
Pangeran Puger.
Setelah
upacara permohonan izin selesai, acara dilanjutkan dengan peletakan uang logam
yang dibungkus daun kering, oleh Bupati selaku wakil dari Pangeran Puger ke
dalam perahu kecil yang berisi sesaji. Berbagai hasil alam Puger ditempatkan
pada dua miniatur perahu yang di dalamnya juga diberi sayur-mayur yang
melambangkan agar masyarakat senantiasa bersatu. Lalu sesaji dalam perahu
tersebut diarak menuju pantai.
Perahu hias
berlayar ke tengah setelah sesaji dinaikkan. Perahu hias beserta perahu besar
berlayar sejauh tiga kilometer dari pantai dan kemudian menaburkan sesaji ke
laut yang diiringi salawat dan takbir bersama. Setelah sesaji selesai
ditaburkan, perahu kembali ke pantai yang menandai acara petik laut secara
seremoni telah selesai.
Sesaji yang
dilarung terdiri dari berbagai macam. Ada kepala kambing/sapi yang melambangkan
penyerahan dan ketundukan manusia terhadap Tuhan. Kepala ini diibaratkan
sebagai ego manusia sehingga harus menghilangkan egonya demi ketundukan dan
kepasrahan. Ada hasil pertanian yang merupakan simbol kepasrahan manusia
terhadap benda-benda yang dimiliki, artinya semua benda yang dimiliki pada
dasarnya milik Tuhan dan manusia hanya diberi untuk kelangsungan hidup mereka.
Sayatan sapi dan kue lima warna yang melambangkan bahwa manusia memerlukan
sandang pangan dalam hidup. Jenang merah dan putih melambangkan kehidupan yaitu
ada malam dan siang. Simbol sepasang
bocah lelaki dan perempuan yang terbuat dari tepung melambangkan bahwa manusia
terdiri dari lelaki dan perempuan dan masih banyak lagi sesaji yang berupa
makanan yang umum dimakan oleh para masyarakat nelayan yang kesemuanya berasal
dari swadaya masyarakat.
Pada saat
pengarakan sesaji diiringi oleh berbagai tarian. Ada tari pembuka yang
menggambarkan anak-anak yang menjemput bapaknya yang pulang dari melaut.
Kemudian dilanjutkan dengan tarian Nyare Aeng ka Semper (mencari air ke sungai)
yaitu para anak nelayan pergi ke sungai untuk mengambil air. Setelah itu ada
tarian Samper Nyeceng, yaitu gambaran dari para istri nelayan yang menunggu
sang suami pulang dari melaut. Tarian terakhir yaitu tarian Muang Sangkal
(tarian buang sial) yang diperagakan oleh lima orang penari. Tarian ini selalu
ada sebelum acara petik laut dimulai yang berarti harapan agar acara berjalan
baik, tanpa ada hambatan dari awal sampai akhir.
Banyak persiapan yang dilakukan oleh para nelayan sebelum
acara petik laut. Mereka dengan gigih mengecat ulang perahu mereka dan juga
menghiasnya dengan berbagai macam
hiasan. Memasak berbagai macam hidangan sebagai sesaji pelengkap yang nantinya akan
dimakan bersama-sama setelah selesai didoakan. Itulah mengapa petik laut tidak
akan terselenggara dengan lancar dan khidmat jika kehilangan nilai
kegotong-royongan antar masyarakat nelayan, karena acara petik laut ini
terselenggara hasil dari swadaya masyarakat.
Masyarakat Indonesia yang multikultural juga
berdampak bagi masyarakat Jember khususnya Puger. Jember terkenal sebagai
daerah dengan budaya pendalungannya yaitu campuran antara Jawa dengan Madura.
Sehingga dalam rangkaian acara petik laut dapat dijumpai akulturasi kedua
budaya tersebut. Di Puger bukan lagi Jawa bukan lagi Madura, namun masyarakat
pendalungan. Kerukunan dalam masyarakat ini semakin tercipta ketika acara petik
laut tiba. Tidak ada lagi kasta nelayan bawah ataupun bangsawan, semua memakan
makanan yang sama. Kerjasama antar warga masyarakat sangat dibutuhkan dalam mensukseskan
acara petik laut, karena petik laut bukan hanya tentang nelayan, bukan hanya
tentang hidup mereka di laut tetapi merupakan ungkapan keyakinan masyarakat
terhadap kehidupan yang saling terkait antara manusia, alam dan Tuhan. Hal
sederhana inilah yang menjadikan Indonesia bisa hidup rukun di bawah naungan
Bhineka Tunggal Ika walaupun berasal dari adat yang berbeda, kondisi geografis
yang berbeda maupun keyakinan yang berbeda. Namun adanya keyakinan masyarakat
tersebut telah melahirkan nilai yang tumbuh dalam setiap pribadi Indonesia,
nilai yang menjadi jiwa Indonesia, jiwa yang akhirnya melaahirkan sebuah
mahakarya Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar